Menyoal Puisi Ny. Sukmawati Soekarno
KH. M. Cholil Nafis
Nah mimin beri salah satu pandangan mengenai puisi yang lagi kontroversial menurut Kiai Cholil Navis. Berikut penjelasan resmi KH. M. Cholil Nafis, Wakil Ketua LBM PBNU (2005-2015). 

1. Tak mengerti syariat Islam bagi pemula itu keniscayan tapi bangga dengan tak paham syariah bagi muslimah adalah "kecelakan". Syariah itu sumber ajaran Islam yg wajib diketahui oleh pemeluknya. Syariah itu original dari Allah SWT. 

2. Cadar itu produk fikih dari ijtihad ulama yang meyakini sebagai syariah berdasarkan dalil al Qur'an surat an-Nur: 31, khususnya menurut pendapat Ibnu Mas'd. Walaupun sebagian ulama yang tak mewajibkan cadar, namun tak soal keindahan semata karena juga soal kepatuhan kepada Allah SWT.

3. Adzan itu syi'ar Islam untuk memberi tahu dan memanggil mendirikan shalat. Adzan bukan sekedar soal merdu suara muadzinnya di kuping, tapi bagi muslim Adzan itu menembus hati karena berisi keagungan Allah, syahadat dan ajakan untuk meraih kebahagiaan.

4. Cadar dan adzan menyangkut keyakinan bukan soal keindahan, meskipun keduanya itu tak saling bertentangan. Tak layak membandingkan sesuatu yang memang tidak untuk dibandingkan apalagi wilayah subjektif individu dan pelantunnya. Mana kebhinekaannya itu yang didengungkan.

5. Adzan berasal dari mimpi Abdullah bin Zaid bin Abdi rabbih yang sama dengan mimpi Sayyidina Umar bin Khathab tentang memberi tahu waktu shalat yg kemudian dibenarkan oleh Nabi saw dan langsung dipraktikkan oleh Bilal bin Rabah. Ini mimpi yg benar sebagai hadits taqriri.

6. Nabi SAW bersabda: Mimpi orang shaleh itu bagian dari 46 jalannya kenabian. Bahwa mimpi bisa berperan sebagai wahyu sebagaimana mimpi model adzan yang dialami oleh Abdullah bin Zaid dan Sayyidina Umar bin Khaththab yang kemudian ditetapkan oleh Nabi SAW sebagai hadits Nabi SAW.

7. Nusantara ini kaya dengan budaya dan nilai. Menilai keindahan tidak boleh merendahkan yang lain. Klaim merek kecap nomer 1 boleh saja asalkan jangan dibandingkan apalagi merendahkan kecap yang lain. Tak elok menyinggung yang lain untuk membangun kerukunan dalam kebhinekaan.

Source: KMNU UB

SHARE THIS

Author:

Jurnalis

0 comments: