Demo Bawaslu Pusat Dimasa Tenang Pilkada Serentak



Jakarta- Mearindo, Memasuki hari pertama masa tenang  Pilkada serentak 2018 di 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota, Kantor Bawaslu yang berada di Jl.M.H Tamrin Jakarta Pusatt didemo oleh aktifis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung.

Demo di Bawaslu Pusat kali ini dilakukan dengan aksi unik, lantaram presiden BEM Universitas Lampung seorang diri akan bermonolog dan puisi direncakan selama 12 jam di depan kantor Bawaslu Republik Indonesia (Pusat).

Monolog puisi kritik untuk Bawaslu Pusat akan di bacakan selama 12 jam itu di mulai jam 06.00 hingga jam 18.00.

Menurut Muhamad Fauzul Adzim Presiden BEM Univ Lampung, kepada media Mearindo memberikan keterangan terkait aksi tersebut sebagai bentuk kritik dan keprihatinan atas pelaksanaan Pilkada serentak tahun ini dengan keadaan yang jauh dapat menciptakan demokrasi yang jujur dan bersih.

Fauzul Adzim dalam aksi teatrikal monolognya menyampaikam tuntutan diantaranya:

1. Menyatakan protes ke Bawaslu Republik Indonesia terhadap kinerja Bawaslu secara umum baik pusat maupun daerah yang jauh dari harapan untuk menciptakan nilai-nilai demokrasi yang sesungguhnya.

2. Memyatakan sikap bahwa momentum pilkada serentak 2018 yang di laksanakan di 7 provinsi 15 kabupaten dan 39 kota harus menjadi pembahasan yang serius oleh seluruh kalangan untuk bisa sama sama mengawasi terutama pada persoalan politik uang , politik transaksional, politik sara dan  investasi pihak pihak lain diluar kepentingan rakyat.

3. Mematerai Bawaslu sebagai sampel perangkat demokrasi di indonesia untuk kuat mempertahankan stabilitas negara saat dilakukannya pilkada serentak di beberapa daerah.

4. Mengekspresi keresahan dan kegelisahan rakyat terhadap proses demokrasi yang penuh dengan tipu daya dan ilusi demokrasi liberal yang tidak terfokus pada kesejahteraan rakyat melainkan menjadikan rakyat sebagai objek politik saja.

5. Mengecam keras dengan metode seni dan sastra kepada para pemilik modal, korporasi, komprador, elit pengusaha yang menjadikan momen pilkada, pileg, pilpres, dan proses
demokrasi lainnya sebagai alat melanggengkan kepentingan perusahaanya bukan kepentingan
rakyat.

6. Sebagai ajakan kepada seluruh elemen masyarakat dan negara untuk mawas diri terhadap rongrongan para penghianat negara di momen-momen politik, Jangan sampai tahun - tahun politik ini kita menjual kepercayaan rakyat kepada kaum pemilik modal.

7. Menyatakan dengan tegas bahwa mahasiswa senantiasa siap mengawal demokrasi indonesia demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat indonesia.

Hingga berita ini diterbitkan, aksi masih berlangsung monolog teatrikal puisi dengan  fasilitas truk dan shon sistem. (Faul Lana)

SHARE THIS

Author:

Jurnalis

0 comments: